“sayang, aku menginginkanmu duduk manis di sampingku, bisakah?”, tanya lelaki itu
“aku tidak terbiasa,,aku orang bebas,,”, balas perempuan itu
“sampai kapan kamu akan bebas seperti ini, kamu perempuan, sayang”, tanya lelaki itu
“sebenarnya aku ingin, tapi kita kan terpisah..”
“ya, aku akan menunggumu, bersabar menunggu kamu”
perempuan itu berpikir, dia tidak ingin membuat kekasihnya menunggunya, apalagi menunggu dengan cinta. menunggu cinta sama dengan membunuh diri sendiri secara perlahan. dia tidak ingin membunuh lelakinya.
perempuan itu akhirnya memutuskan untuk pulang menemui cintanya.
“sayang aku senang kita bisa bersama”, ujar lelaki itu
“aku juga, tapi aku khawatir”, balas perempuan itu
“apa yang kamu khawatirkan, sayang?”, tanya lelaki itu
“aku paham dengan kompleksitas kerja kamu, aku takut kamu tidak ada waktu, aku takut kamu tidak setia”, papar perempuan itu
“aku akan ada buat kamu, sayang, percayalah”, lelaki itu menguatkan
“ya, baiklah, aku percaya”, jawab perempuan itu masih dengan keraguan di dadanya
sebulan lebih berlalu, manis, hubungan yang manis. perempuan dan lelaki itu disanjung sebagai pasangan yang serasi, pas, cocok. yang perempuan beruntung mendapatkan lelaki itu, lelaki itu beruntung mendapatkan perempuan itu.
selanjutnya, mulailah ombak menjadi ganas. berakibat pada kapal cinta mereka yang berlayar terombang-ambing, hampir terhempas.
perempuan itu mulai resah, gelisah, gundah, ragu, sedih, marah, pada lelakinya. benar adanya ketika perempuan itu berekspresi, lelaki itu mulai marah. lelaki itu merasa egonya dilangkahi, lelaki itu marah, perempuan itu diam dalam kecewa dan marah.
perempuan itu menulis email pendek, tak kuasa berbicara.
lelaki itu membalasnya dengan sms pendek.
perempuan itu menangis. dia menangis lagi. menangis lagi. perempuan itu berpikir untuk berhenti menangis. dia berhenti menangis.
perempuan itu berhenti menangis, untuk selamanya
Feb 04, 2009 @ 07:44:56
hmmmm….. selalu ada alasan untuk air mata…
Feb 25, 2009 @ 00:50:59
karena untuk setiap apa yang kita lakukan juga ada alasan bang
termasuk menangis,,
agar tau, menangis itu tak sia-sia
Feb 24, 2009 @ 16:47:53
‘menunggu cinta sama dengan membunuh diri sendiri secara perlahan’ aduh… kutipan itu sangat menyentuh…suka banget gua hehehhe… namun bukankah cinta adalah anugrah…yang terkadang mesti ditunggu jatuhnya..seperti pohon cheery yang menggugurkan buahnya pada musim kemarau? Rasa buahnya akan lebih enak karena sudah jatuh pada saat dia seharusnya jatuh?
Jika cinta telah bertaut dalam kebersamaan seperti kutipan ‘sebulan lebih berlalu, manis, hubungan yang manis. perempuan dan lelaki itu disanjung sebagai pasangan yang serasi, pas, cocok. yang perempuan beruntung mendapatkan lelaki itu, lelaki itu beruntung mendapatkan perempuan itu.’ kenapa harus ada perpisahaan?
Karena sesungguhnya mereka berdua tidak memiliki hakekat cinta itu sendiri. Mereka melangkah dengan keraguan seperti kutipan itu ‘“ya, baiklah, aku percaya”, jawab perempuan itu masih dengan keraguan di dadanya’
Bukankah jika ada keraguan, lebih baik ditinggalkan karena sesungguhnya keraguan itu berasal dari Syetan? Namun keberanian perempuan itu untuk mencoba akhirnya, patut dibanggakan. Karena dia telah mencoba dan telah menemukan jawabannya. Kalaupun gagal itu hanya karena takdir menentukan lelaki itu bukan jodohnya. Namun jika dia tidak pernah mencoba, tentu perempuan itu tidak akan pernah tahu seumur hidupnya…
‘perempuan itu berhenti menangis, untuk selamanya’ Ketegaran terkadang melahirkan keangkuhan hati…Air mata adalah anugrah, dia akan tetap ada ketika ‘rasa’ selalu ada. Menangis dalam konteks mengaluarkan air mata atau menangis dalam hati adalah sama saja karena tetap menangis…yang tidak boleh justru meratapi….
Aduh maaf yaaaa…jadi kebawa perasaan hehehehehe
Feb 25, 2009 @ 00:57:53
tak perlu lah da yal minta maaf…
interpretasi da yal, tepat banget!