Kau laki-laki pengecut! Tak mau menikahiku, padahal aku sudah meyakinkan ayahku yang sangat menentang hubungan kita. Selama ini ayahku tidak pernah melarangku untuk melakukan atau memilih sesuatu, selalu aku yang memilih, dan ayah pasti mendukungku. Namun pilihanku untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku sangat ditentangnya. Kamu tahu kenapa? Bukan karena pekerjaanmu tidak jelas, ayahku berprinsip rejeki itu tak berpintu, asal mau berusaha, pasti ada rejeki. Bukan karena pendidikanmu yang rendah, kamu sekarang menjadi kandidat doktor pada kampus almamatermu. Bukan karena kamu jelek, kamu sangat tampan dan gagah dengan perawakan 172 cm dan tubuh tegap. Bukan karena kamu miskin, kamu anak seorang mantan pejabat di kota kelahiranmu. Kamu tahu karena apa? Karena dia tidak melihat ada cahaya di wajahmu dengan menyembah pada-Nya lima kali sehari. Padahal ayah tak pernah bersamamu dalam datangnya waktu shalat. Ayah tak pernah main-main soal keimanan, soal iman tak bisa ditawar-tawar olehnya. Tidak ada ampun untuk orang yang tidak shalat. Dia sangat meyakini itu.
Lalu kamu terdiam ketika hal itu kuceritakan padamu. Diam dan memandangku dengan tatapan yang menusukku, dasar aku perempuan tak mudah ditaklukkan, aku balik menatapmu dengan tajam.
“Aku masih mencari Tuhan”, katamu sambil menunduk.
Shalat bagimu hanya ritual semata, ritual yang tak bermakna katamu. Kamu bilang bahwa kamu hanya mencari makna. Entah makna apa yang kau cari. Selalu banyak alasan darimu dengan literatur yang kadang tak kumengerti. Tapi sialnya aku tak bisa melepaskanmu dari hatiku, karena aku merasa kau lah laki-laki yang telah bisa menaklukkan hatiku. Maka dengan penuh perjuangan aku memohon pada ayah untuk mau menerimamu. Ya sebagai anak yang paling dibanggakannya, aku bolak-balik pulang ke rumah ayah dalam kesibukanku yang sangat padat antara mengajar di berbagai kampus dan menyelesaikan program doktorku di penghujung usia 30 ini. Merayu ayah sampai sekeras ini merupakan hal yang baru kulakukan. Aku sampai membuat buku tentang Tuhan, banyak buku yang kubaca berkaitan dengan itu. Disertasiku untuk sementara tidak kupedulikan dulu. Aku telah menulis 365 halaman untukmu, lelakiku. Untuk kamu baca dan maknai, karena aku tahu, kamu selalu menuntutku untuk berpikir ilmiah. Buku itupun aku perlihatkan pada ayah. Akhirnya ayah luluh juga dengan permohonanku, rupanya tidak tega mengecewakan anak kebanggaannya. Ayah mau menerimamu dengan catatan kamu mau belajar untuk membiasakan diri melakukan shalat dan memaknai shalat itu dengan ikhlas.
Tapi apa reaksimu ketika kuberikan buku ini untukmu, kamu malah membuangnya dan mengatakan buku ini hanya untuk orang bodoh yang ingin mengetahui siapa Tuhannya. Dengan segala pendapat aku sampaikan padamu dan kamu membantah semuanya. Hingga kamu mengatakan bahwa aku tidak menghargaimu lagi.
“Aku akan mencari Tuhan dengan caraku sendiri, sebaiknya kita berpisah. Aku bosan dengan semua khotbahmu tentang tuhan dan shalat. Lagi pula, ibuku tidak menyukaimu, pendidikanmu terlalu tinggi katanya. Dia khawatir aku akan mengabaikannya nanti jika menikah denganmu, dia juga menginginkan menantu yang bisa menemaninya. Itu masalah utama hubungan kita. Aku tak bisa melawannya. Hanya dia orang tua yang kumiliki saat ini, setelah ayahku meninggal lima bulan yang lalu. Ini salah satu caraku mencari Tuhan”, begitu katamu meninggalkan aku.
Aku menangis, hal yang pertama kali aku perlihatkan di depanmu. Hingga membuatmu berbalik, panik. Kamu begitu khawatir, rupanya masih ada cinta untukku. Dan kamu mengatakan tidak akan meninggalkanku, menenangkanku sambil menghapus air mataku. Kemudian aku tersenyum, bahagia. Aku ingat kata-kata merayumu dan beberapa surat cinta yang kamu tulis untukku.
“Dirimu ku kagumi, kamu sosok yang tegar, aku bahagia bersamamu, sayang…”
Begitu katamu pada awal kita menjalin kasih. Kamu yang punya cita sederhana untukku, menjadi awan kecil, membasuhi pasir yang kering, membangkitkan gairah semi tunas kecil. Menginginkan kebahagiaan jiwa raganya terhadapku.
“Aku melihat pintu bahagia itu di matamu sayang dan aku akan membahagiakanmu selamanya”, begitu katamu hingga aku memelukmu erat pada senja merona itu.
Sekali waktu kamu menyelipkan sebentuk surat cinta pada buku yang kupinjamkan, “Tahukah dirimu sayang.. Imam Syafei bermahzab setelah jiwa raganya dipenuhi kekasihnya. Dia mencintai sang Khalid melalui diri kekasihnya. Aku ingin seperti itu,, cintamu untuk taman firdausku, cintaku untuk darussalammu… Dirimu yang bisa merangsang hormon kebahagiaan dalam otakku, kurasakan mengalir ke seluruh peredaran darahku. Dirimu wanita yang kukagumi sayang,, Tuhan sedang mencurahkan rahmat-Nya. Kehadiranmu kuresapi bukan sekedar kognitif, namun sudah menyentuh afeksitasku. Akhirnya benteng egoku sudah jebol olehmu. Dirimu wanita pertama yang meluluh lantakkan persepsiku tentang cinta. Dahulu cinta kuanggap hanya arus utama tema pelaris lagu komersil, ternyata tidak.. Cintaku dan cintamu yang tersentuh adalah realitas rasa yang kukagumi atasmu. Meresapi aromamu membuatku histeria, sensasional, dan bahagia. Aku ingin menghirup semua aromamu, sampai udarapun tak sanggup mencurinya dariku.”
Sungguh surat cinta yang menggetarkan jiwaku.
Seminggu kemudian kamu datang ke rumahku. Kondisi kesehatan ibumu memburuk, katamu. Dan itu karena ibumu mengetahui kita masih menjalani hubungan.
“Ibuku sangat tidak menginginkanmu, dia sangat cemburu denganmu, aku tak kuasa mambantah kata-katanya. Aku ingin membahagiakannya. Kita akhiri hubungan ini”, begitu katamu.
Dan kamu akhirnya memilih untuk membahagiakan ibumu yang tinggal seorang diri, kamu meyakini bahwa jalan untuk mencari Tuhan adalah dengan menjalankan agama sesempurnanya. Ridha Tuhan terletak pada ridha orang tua, dan yang kamu punya hanya ibumu. Kamu pun berargumen Rasullullah pun pernah menjawab pertanyaan dari sahabatnya, terhadap kedua orang tua saya kepada siapakah saya mesti mengabdi ya Rasullullah? Pertama ibumu, lalu yang kedua, ibumu, yang ketiga, ibumu, yang keempat, ayahmu. Kamu mengabdikan seumur hidupmu pada ibumu.
Lelakiku meninggalkanku dalam pencariannya terhadap Tuhan, dia tidak ingin menyakiti hati ibunya karena tidak menyetujui perempuan pilihannya. Lelakiku ingin mengabdi kepada ibunya yang sakit, ibunya yang tak mau anaknya ‘diambil’ orang lain. Ibunya yang takut sendirian. Ibunya yang selalu membelanya dengan cinta di kala ayahnya mengamuk padanya sampai rentang usia remajanya.
Aku hanya bisa menangisi keputusannya, mencoba untuk ikhlas. Lelakiku memberikan seulas kain songket warna merah bermotif emas. Warna yang sangat aku suka.
“Sayangku, aku masih sangat mencintaimu, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Kamulah satu-satunya perempuan yang telah membuat hidupku berarti, tapi aku tidak mau Tuhan murka karena aku telah membuat ibuku menangis. Telah lama aku mencari dan ingin menemukan Tuhan, aku tak mau lagi dia pergi meninggalkanku. Dirimu juga telah berjasa mempertemukanku dengan-Nya. Namun pada penghujung usia ibuku, aku ingin membalas semua jasanya. Untuk ini aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun. Aku akan membawa cintamu di hatiku selamanya. Kalau kita berjodoh nanti, kain songket merah yang kuberikan padamu ini akan menjadi tanda dan alat untuk mempersatukan kita, dan aku tidak tahu kapan. Aku harap kamu dapat menyimpannya baik-baik. Kalaupun dirimu hendak menikah dengan laki-laki lain, silahkan, tidak ada persoalan bagiku, aku ikhlas. Aku ingin melihatmu bahagia”
Isak tangisku semakin kencang mendengar perkataan lelakiku. Aku tak bisa mengatakan apapun. Lelakiku menyapu air mata yang mengalir di pipiku dengan saputangan berwarna cream miliknya. Dan dia pergi meninggalkanku, benar-benar pergi meninggalkan aku dan pindah ke kota lain. Aku masih tetap menangis.
“Sayang,,,kamu kenapa?”, tanyamu sambil mengguncang-guncang tubuhku.
Aku membuka mata dan memendarkan pandangan ke sekitar ruangan, gorden merah dihiasi bunga-bunga segar dengan dinding warna pink muda. Kasur tebal empuk dengan sprei merah salam dan lelakiku mendekapku dengan jarak pandang mata yang sangat dekat. Aku masih bingung.
“Sayang, kamu menangis, mimpi buruk ya?”, tanyamu dan aku masih terdiam menatapmu.
“Beyb,, ini malam pertama kita..tersenyumlah. Ayo, ceritakan padaku kamu mimpi apa barusan?”, katamu sambil mengusap air mataku.
“Hmm,, kalau begitu, kita shalat tahajud dulu ya, biar kamu tenang sayang,,,”, katamu mengajakku shalat malam.
Aku baru sadar, bahwa yang kualami tadi hanya mimpi. Mimpi buruk. Aku langsung memeluk lelakiku, yang telah jadi suamiku. Aku memeluk erat lelakiku, sangat erat, takut dia pergi meninggalkanku. Ah, hanya mimpi!