Hal-hal yang mesti disyukuri tahun 2011 ini

3 Komentar

Tanggal 31 Oktober ini aku berulang tahun yang ke 28. Ya, usia yang tak lagi belia, namun hampir semua orang mengatakan aku masih berusia 23 tahun. Sudah lama waktu kuhabiskan, untuk apa saja aku habiskan waktu itu? Aku akan mencoba mengurainya dengan hal-hal yang patut disyukuri:

1. Sekembalinya dari Jakarta, aku bekerja sebagai dosen di Padang, kampus STKIP PGRI Padang Sumatera Barat. Menjadi dosen merupakan pencapaian yang harus disyukuri.

2. Hampir menyelesaikan S2 jurusan Bimbingan dan Konseling (insya Allah wisuda Maret 2012)

3. Telah memutuskan hubungan dengan laki-laki yang tidak tepat

4. Telah memulai hidup sehat dengan jogging, senam, dan fitnes yang teratur

5. Mulai sering memasak makanan sendiri setiap pagi dan malam

6. Memiliki teman-teman yang seru dalam berbagai hal

7. Sangat menikmati menjadi partner diskusi bagi seluruh mahasiswa yang kuajar

8. Memiliki adik-adik yang sehat dan cerdas

9. Memiliki orang tua yang menyenangkan

10. Memiliki banyak waktu untuk bertemu dengan siapa saja kapan saja (tapi tetap mengajar ketemu mahasiswa no.1)

11. Memiliki kondisi financial yang stabil

12. Memiliki wajah yang menarik dan tubuh yang sehat

13. Memiliki ratusan koleksi buku dengan beragam tema dan bebas membacanya kapan saja

14. Memiliki teman kerja yang saling mendukung

15. Diserahi jabatan baru di tempat kerja

16. Bebas menentukan mau makan di restoran apa saja di Padang

17. Menikmati naik angkot yang berisik dengan kurenah penumpang dan sopirnya bikin aku sering tersenyum sendiri melihatnya

18. Menyukai berjalan kaki kemana-mana

Hal-hal yang ingin diraih berikutnya:

1. Memiliki rumah sendiri dengan kebun yang luas

2. Memiliki ruang ibadah dan ruang baca yang ideal

3. Menemukan pasangan hidup yang tepat dan cocok serta saling mendukung

4. Bisa travelling ala backpacker ke seluruh inci Indonesia nan eksotik

5. Mempublish buku sendiri

6. Menjadi ibu

7. Menjadi pembicara pada even pendidikan, konseling, dan perempuan

8. Memiliki financial yang lebih mapan hingga bisa berbagi ke banyak orang lagi

9. Melanjutkan pendidikan

10. Memiliki lembaga konsultasi pendidikan

11. Memiliki aset properti yang aktif

ICTBK alias TIBK

Tinggalkan komentar

Dikutip dari makalah Penerapan ICT dalam BK oleh Dr. Adi Atmoko, M.Si

Meskipun ICT secara luas mencakup pula media komunikasi massa seperti radio dan televisi, namun dalam pembahasan ini hanya dibatasi pada teknologi komputer dan jaringan internet yang, tentu saja, lebih difokuskan pada perangkat lunak dan fungsi-fungsinya daripada macam-macam perangkat keras. Barangkali, lebih spesifik, ditunjuk beberapa contoh yaitu program analisis data, sistem data base, power point, e-mail, face book, tele-conference, web dan blog. Kelebihan teknologi informasi adalah proses pengiriman dan penerimaan informasi yang lebih cepat, lebih luas sebarannya, lebih tahan lama disimpan, dan praktis serta efisien dari segi jutaan muatan informasi yang dapat disimpan ‘hanya dalam saku’ (dalam bentuk flashdisk). Bahkan kemajuan teknologi ini sudah mampu mengatasi batasan ruang dan waktu yang tentu sangat cocok bagi wilayah geografis Indonesia yang sangat luas dan terdiri dari kepulauan.

Pengembangan keilmuan merupakan proses yang memerlukan ketelitian, kesabaran dan akurasi sejak studi pustaka sampai pengujian hipotesis dan perumusan kesimpulan, dan komunikasi antar komunitas untuk penyebaran ilmu dan untuk saling koreksi dalam rangka penyempurnaannya.  Fungsi utama ICT bagi pengembangan keilmuan adalah fungsi percepatan (akselerasi) bagi terbentuknya struktur keilmuan BK di Indonesia yang kokoh (establish). Jika tanpa ICT mungkin memakan waktu sampai beberapa dekade, maka dengan ICT proses tersebut bisa dipercepat, tanpa mengurangi syarat kualitas yang dituntut sebagai suatu sains.

Untuk mempercepat wujud struktur keilmuan BK di Indonesia yang kokoh tersebut,  gagasan tentang pusat ICT BK Indonesia perlu segera direalisasikan. Asosiasi profesi Bimbingan Konseling Indonesia (ABKIN) perlu memiliki web tentang Bimbingan Konseling Indonesia. Teknis nama, pembuatan, pengisian dan up dating, organisasi pelaksana dan biaya pemeliharaan perlu diputuskan sebagai kebijakan dan program kerja ABKIN. Pusat informasi dalam dunia maya ini dimaksudkan sebagai rujukan misalnya mencari sumber pustaka dan jurnal hasil penelitian, meningkatkan efisiensi proses penelitian terutama dengan pengumpulan data secara on line, komunikasi-publikasi keilmuan BK termasuk pengalaman-pengalaman praktisi BK seluruh Indonesia,  dan bahkan proses standaridasi praktik profesi BK di Indonesia.

Dalam jangka panjang pusat ICT BK ini akan membentuk suatu jejaring sosial bukan hanya komunitas BK, melainkan juga profesi lain terutama bidang pendidikan. Ia juga merupakan sarana promosi yang efektif dengan jangkauan sangat luas (mendunia), yang memungkinkan terbentuknya kerjasama baik kelembagaan ABKIN maupun perorangan anggota dengan berbagai institusi dan dengan komunitas berbagai disiplin ilmu. Jejaring tersebut memungkinkan terjadinya lalu lintas masukan, sumbang saran, dan pengumpulan karya ilmiah bidang BK semakin terorganisir dan mudah diakses serta digunakan bagi kemajuan keilmuan BK itu sendiri maupun praktik profesi BK. Tentu ini akan menimbulkan multiplier effect yang sangat mengesankan bagi keilmuan BK. Out come yang lain adalah muncul ketokohan para pemangku keilmuan BK dengan spesifikasi keahlian masing-masing, yang tentunya semakin menguatkan bangunan keilmuan BK Indonesia.

Setidaknya, pusat ICT yang kita gagas mencakup konten tentang visi & misi pengembangan keilmuan BK, organisasi pelaksana termasuk staf ahlinya, teori-teori yang telah ‘mapan’ di bidang BK maupun terkait BK, kearifan lokal yang berpotensi dikembangkan menjadi keilmuan BK, katalog temuan-temuan penelitian sejak paling awal sampai terbaru, beberapa pendekatan dan metode penelitian dalam BK baik kuantitatif maupun kualitatif, informasi yang terbaru kegiatan organisasi, prestasi-prestasi yang pernah dicapai, kebijakan dan peraturan pemerintah tentang pendidikan dan BK di Indonesia, dan berbagai informasi yang sangat diperlukan  bagi pengembangan keilmuan BK maupun profesi BK di Indonesia.

Gagasan ini optimis terwujud karena Kementrian Pendidikan Nasional , institusi formal tempat profesi BK bernaung, juga sedang mengembangkan infrastruktur jejaring maya yang menjangkau setiap sekolah di Indonesia. Artinya, pusat ICT BK akan mudah diakses oleh para konselor di sekolah-sekolah di seluruh pelosok. Namun, tantangan besar justru di pihak para pemangku BK itu sendiri, maukah secara konsisten dan kontinyu untuk mengembangkan pusat ICT. Pertanyaannya adalah: maukah kita menjadi pelaku sejarah untuk pengembangan keilmuan BK sekarang dan masa depan?

Terkait dengan kontinyuitas pusat ICT, proses pembelajaran di prodi-prodi BK, tidak bisa tidak,  harus membiasakan penggunaan ICT agar para dosen dan calon konselor sudah familiar dengan ICT, sehinggga merupakan ‘gayung bersambut’ bagi kehidupan pusat ICT. Keharusan ini rupanya tidak bisa ditunda lagi, mengingat beberapa kompetensi (calon) konselor berimplikasi pada penggunaan ICT. Kompetensi yang dimaksud adalah sebagai berikut (Depdiknas, 2008).

1)      Memanfaatkan hasil-hasil penelitian dalam bimbingan konseling. Kompetensi ini menuntut (calon) konselor  untuk melakukan browsing/mengakses jurnal-jurnal bimbingan konseling, pendidikan dan psikologi, dan kemudian mampu merangkum serta menyajikannya secara menarik/enak dibaca/mudah dipahami dalam bentuk gambar, bagan, grafik statistik, poster, photo dan sebagainya. Untuk itu (calon) konselor setidaknya menguasai browsing, program excel dan power point.

2)      Menganalisis kebutuhan konseli. Kompetensi ini menuntut keterampilan untuk entry data, melakukan analisis deskriptif dan inferensial, menyimpulkan dan menyajikan data dalam bentuk grafik/gambar statistik. Untuk itu (calon) konselor setidaknya menguasai program excel dan analisis data Spss.

3)      Menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan konseling kepada pihak terkait: orang tua, guru, kepala sekolah, pengguna informasi yang lai.  Kompetensi ini menuntut keterampilan untuk entry data, melakukan analisis deskriptif dan inferensial, menyimpulkan, mengemas dan menyajikan informasi dalam bentuk tulisan dan grafik/gambar statistik. Untuk itu (calon) konselor setidaknya menguasai program web/blog, face book, e-mail, power point, excel dan analisis data Spss.

4)      Mengadministrasikan hasil asesmen untuk mengungkapkan masalah-masalah konseli.  Kompetensi ini menuntut keterampilan untuk entry data, melakukan analisis deskriptif dan inferensial, menyimpulkan dan menyajikan data dalam bentuk grafik/gambar statistik. Untuk itu (calon) konselor setidaknya menguasai program data base, power point, excel dan analisis data Spss.

5)      Memilih dan mengadministrasikan instrumen untuk mengungkapkan kondisi aktual konseli.  Kompetensi ini menuntut keterampilan dalam mendesain instrumen secara computerize, analisis, penyimpanan dan sajian hasilnya dalam bentuk data base.

6)      Mengakses data dokumentasi tentang konseli. Kompetensi ini menuntut keterampilandalam mendesain sistem informasi data konseli baik individu maupun kelas. Untuk itu (calon) konselor setidaknya menguasai program web, analisis data Spss dan sistem data base.

7)      Mengomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan layanan bk kepada pihak-pihak terkait. Kompetensi ini menuntut keterampilan dalam membuat bahan presentasi dengan power point dan program sejenisnya.

8)      Mengomunikasikan aspek-aspek profesionalisme bimbingan konseling kepada organisasi profesi lain. Kompetensi ini menuntut keterampilan dalam menulis artikel hasil penelitian/konseptual, pengalaman, pendapat dsb., untuk disajikan dalam forum-forum ilmiah. Untuk itu (calon) konselor perlu menguasai teknik browsing yang efektif, program analisis data dan power point.

Terkait dengan penggunaan ICT dalam pembelajaran calon konselor, maka struktur ketenagaan pendidikan konselor pun perlu diubah. Selama ini ‘hanya’ terdiri dari tenaga dosen yang berlatar belakang BK dan (beberapa) psikologi, tetapi di masa depan perlu pula tenaga yang menguasai khusus ICT dan pengolahan data.

EMAK

Tinggalkan komentar

Aku anak laki-laki satu-satunya. Emak sangat menyayangiku. Aku lahir premature, sehingga emak sangat menjagaku. Sampai-sampai pada usia TK pun aku ke mana-mana masih pakai sepatu, kata emak,”Yusuf,,pakai dulu sepatunya kalau mau bermain ya, di luar itu kotor nanti kamu bisa sakit”. Sehingga aku selalu ditertawakan oleh teman-teman seusiaku karena selalu berpakaian lengkap untuk bermain. Aku minder. Maka akhirnya aku tak punya teman. Semua teman-temanku itu menjauhiku, karena aku tak sama dengan mereka. Aku berlari pulang, menangis dalam pelukan emak, dan emak pun menenangkanku sambil memberikan botol dot susu sampai tertidur.
Aku sangat dekat dengan emak. Bagiku emak segalanya. Berbeda dengan bapak yang seorang polisi, selalu memarahiku, merutuk aku, “Kau itu laki-lakii Yusuf, begitu saja menangis, anak macam apa kau ini”,katanya sambil menunjuk-nunjuk kepalaku. Aku benci sama bapak. Sama bencinya ketika aku melihat bapak memukul dan mencaci maki emak.
Sekali waktu aku melihat bapak menyeret emak yang menangis sambil meronta,”Ayo kamu mengaku saja, kamu ada main kan sama penjual sate keliling itu? Kamu selalu tertawa bahagia ketika membeli satenya, kamu sering berlama-lama ngobrol dengannya. Dasar perempuan! Sama brengseknya, tak bisa dipercaya!”, Plak! Aku melihat emak ditampar lagi dari sudut pintu kamar. Aku takut, aku benci sama bapak. Belakangan aku baru tahu ternyata bapak dulu pernah menikah dan dia memergoki istrinya sedang bermain di ranjangnya dengan laki-laki tetangga sebelah. Bapak menjadi sangat posesif. Pencemburu.
Usai bapak puas memukul dan mencaci maki emak, aku akan menghampiri emak dan memeluknya. Emak biasanya selalu bilang,”Yusuf, kamu tenang ya, emak tak apa-apa. Nanti kalau kamu besar jangan seperti bapak ya, saat ini bapak hanya sedang emosi saja. Nanti juga reda kok”. Aku hanya diam mendengar emak berceloteh. Aku memegang pipinya yang lebam dan sedikit berdarah. Aku iba sama emak.
Emak mau menikahi bapak karena bapak seorang polisi yang kaya. Emak anak tertua. Adiknya ada tujuh orang. Orang tua perempuan emak meninggal saat melahirkan adiknya yang ke tujuh. Dan bapaknya pergi meninggalkan mereka menikah lagi dengan janda kaya di kampung sebelah, sehingga emak berjuang sendiri membesarka adik-adiknya yang laki-laki semua pada usia 17 tahun.
Ketika adik-adiknya mulai tumbuh besar, biaya semakin besar pula. Emak yang waktu gadisnya menjual pakaian jadi di pasar Senen tak mencukupi untuk membiayai ke tujuh adiknya. Hingga akhirnya emak bertemu dengan seorang polisi di kantor pos ketika emak akan mengirim wesel pada empat orang adiknya yang sekolah di kampong. Emak seorangg perempuan yang sangat ramah, bisa ngobrol dengan siapa saja dengan akrab, begitu juga yang dilakukannya dengan bapak. Sehingga bapak jatuh cinta pada emak dan emakpun menerima lamaran bapak. Tiga orang adik emak tinggal bersama emak bahkan sampai emak menikah. Karena masih kecil, pun Badrun yang dibesarkan emak sejak lahir. Emak sangat menyayangi Badrun. Bahkan tali pusar Badrun dikubur emak di rumah tuanya di kampung sama dengan tali pusarku ditanam di rumah. Dengan tujuan agar kelak anak itu tidak pergi jauh dari orang tuanya. Agar orang tua tidak kesepian.
Saat aku kelas dua SMA, emak divonis kena stroke. Emak terkulai lemah. Emak tak bisa apa-apa. Aku sangat sedih. Aku lihat bapak tak sekeras dulu lagi sama emak. Tapi aku membencinya, seperti Oedipus yang membenci ayahnya yang dalam psikoanalisis klasik-nya Sigmund Freud ‘Oedipus Complex’. Aku semakin mencintai emak, tak mau lagi ada yang melukainya. Termasuk bapak, aku beberapa kali bertengkar dengan bapak, nyaris berkelahi dan emak melerai sehingga jatuh dari kursi roda. Untung emak tidak apa-apa. Sejak saat itu, bapak tak pernah lagi bersikap kasar pada emak. Bahkan ketika gempa mengguncang dengan kekuatan 9,8 R bapak menggendong bapak dan bilang sama emak begini,”kamu tenang ya, kalaupun kita mati, kita mati berdua ya”. Ah, bapak yang keras bisa juga sedikit romatis.
Setamat dari SMA aku kuliah di Padang. Aku seperti sedang mencari jati diri, semua organisasi aku masuki. Mulai dari musik, olahraga, politik, sampai ke pergerakan. Yang membuatku berjaya adalah pada organisasi pergerakan, aku bisa mencapai posisi tertinggi sebagai ketua. Aku pacaran serius dengan Lisa sekretarisku pada organisasi pergerakan yang kemudian dia menjadi jaksa. Emak tak merestui kami, karena Lisa pacarku yang jaksa itu anak sulung dari 11 bersaudara. Sepertinya emak sangat trauma dengan kehidupannya. Aku tak bisa memperoleh restu emak. Lisa tak ambil pusing, karena dia kebelet menikah, ya sudah dia enteng meninggalkanku. Seminggu setelah itu, bapak meninggal. Aku terpuruk dengan kejadian beruntun ini, orang terdekatku dan bapak yang kucoba untuk menjadi figur dalam hidupku telah pergi untuk selamanya.
Beberapa bulan kemudian aku kenal dengan Mirna yang pegawai di kantor walikota di kota Batiah, dan dia tinggal di rumah emak yang beberapa kamar dikoskan oleh emak. Emak sangat dekat dengan Mirna. Aku pikir bisa mencoba mendekatinya. Tapi kemudian aku berubah pikiran setelah aku tau Mirna bisa bekerja di kantor walikota itu lewat jalur belakang, bapaknya yang mantan preman punya kekuasaan pada pejabat yang berwenang di sana. Sesuatu yang didapat dengan cara yang tidak benar tidak akan bisa memberkahi apa-apa. Hal itu benar-benar aku benci, sama bencinya aku dengan bapak yang tega memukul dan mencaci maki istrinya sendiri dan setelah itu menyetubuhinya.
Kemudian aku bertemu dengan perempuan kecil yang beberapa tahun lalu pernah berdiskusi di kantor LSM ku dengan lantangnya, hingga aku meliriknya, tapi ah dia masih mahasiswi ingusan yang ikut bicara. Kami bertemu di toko buku terbesar di kota Padang. Perempuan kecil yang sudah menjadi dewasa itu bernama Nadine. Aku tak menyangka bertemu dengan Nadine yang tumbuh menjadi perempuan menarik, berbeda dengan yang aku lihat empat tahun lalu. Saat ini Nadine menjadi dosen di kampusnya dulu. Kami akhinya berpacaran dan berencana untuk menikah. Aku utarakan niatku itu pada emak. Di luar dugaanku, emak menentang rencana pernikahanku dengan alasan bahwa Nadine anak sulung dari delapan bersaudara. Dengan terbata-bata emak berkata“Aku tak mau kau susah seperti aku ini membesarkan adik-adik yang tak tahu terimakasih, sakit hatiku sampai sekarang, kalau kau menikah dengan Nadine, kau akan sengsara dan kau tak akan peduli lagi dengan aku. Siapa yang akan mengurusiku nanti ha?!”, emak akhirnya menangis.
Aku sangat kecewa dengan emak. Malamnya setelah emak tidur, aku menangis sendiri, menahan isakan tangis agar emak tak terbangun. Agar emak tak tahu kalau aku bersedih. Agar emak tak bersedih melihat aku yang sangat bersedih. Aku dan Nadine sudah sangat ingin menikah, dia menerima kondisi emak yang lumpuh itu, aku melihatnya sendiri mau memandikan emak ketika waktu itu emak masuk rumah sakit. Baru kali ini aku menangis semenjak remaja, bahkan ketika bapak meninggal pun aku tak menitikkan air mata setitikpun.
Besoknya aku bicara lagi sama emak untuk menikahi Nadine. Dan emak kejang-kejang, aku panik. Emak mengalami stroke ke dua. Aku menyesal. Rupanya bukan hanya karena perlakuan bapak sama emak yang membuat emak lumpuh, tapi juga pikirannya pada adik-adiknya yang tak tau balas budi. Emak kesepian. Sekarang aku membuat emak sakit lagi.
Di rumah sakit emak memintaku berjanji untuk menikahi Mirna di depan Nadine. Emak sangat sinis melihat Nadine. Tatapan kebenciannya pda Nadine sangat jelas kulihat berbeda ketika kulihat emak menatap Mirna. Aku bingung, aku tak tega melihat emak memelas lemah seperti itu. Aku melirik Nadine yang terkejut dan mencoba kuat. Emak kejang lagi, aku panik memanggil dokter. Setelah ditangani dokter emak bisa tenang. Dalam tidurnya emak mengigau,”Yusuf,,aku tak mau kau menikah dengan Nadine, nanti kau susah.. aku mau kau menikah dengan Mirna. Menikahlah kau sama Mirna, Yusuf..”, berkali-kali emak mengigau itu. Aku terduduk di lantai rumah sakit, menangis. Nadine menenangkan aku dan mengajakku bicara di luar.
“Yusuf, kondisi emak semakin memburuk karena hubungan kita, aku tak bisa melihatnya begini terus. Lebih baik kita berpisah”, Nadine bicara dengan mata yang mulai menganak sungai.
“Tidak Nadine, kamu tak boleh bicara begitu, kita masih punya waktu untuk meyakinkan emak, ini hanya masalah waktu Nadine..”,aku mencoba menenangkan Nadine.
“Sadarilah Yusuf, kita sudah berjuang selama ini untuk mendapatkan restu emak, aku ingin melihat emak bahagia di penghujung usianya. Penuhi permintaan emak Yusuf, menikahlah dengan Mirna, dia gadis yang baik”,pinta Nadine.
“Nadine, aku tak bisa. Kamu jangan menyerah. Kita masih bisa berjuang”,aku memelas
“Bukannya aku menyerah Yusuf, kondisi emak semakin memburuk, aku tak mau lebih parah lagi. Sudah sangat jelas emak menginginkanmu menikah dengan Mirna”, Nadine bicara dengan hati yang luluh. Dia menangis. Aku memeluknya.
“Yusuf, kita pernah merangkai asa untuk pergi ke negara yang ada saljunya dan bercinta dengan dinginnya malam”, Nadine mengulang janji kami dulu sambil melepas syal merah marun yang melilit di leher jenjangnya.
“Simpanlah syal ini, aku yakin kita akan bertemu suatu saat. Jaga emak baik-baik ya, bahagiakanlah emak”, Nadine kemudian berlalu dari rumah sakit. Aku tak bisa menghalanginya. Sejak saat itu aku tak pernah lagi bisa menghubungi Nadine. Bahkan ketika aku menemuinya ke rumah orang tuanya, orang tuanya hanya meminta aku untuk tidak menghubungi Nadine lagi. Dia seperti menutup dirinya untukku.
Emak mulai pulih. Emak mesti menjalani terapi lagi sekali seminggu ke rumah sakit. Emak terus-terusan memintaku menikah dengan Mirna. Akhirnya aku memenuhi permintaannya setelah enam bulan berpisah dengan Nadine.
Menikah dengan Mirna adalah mimpi burukku sama ketika berpisah dengan Nadine. Kemolekan tubuh Mitrna tak mampu membuatku panas di ranjang. Aku kasihan dengan Mirna.
“Abang, kenapa kau lakukan ini padaku, apa salahku?”, begitu ratap Mirna pada suatu malam padaku.
“Mirna, dari awal aku sudah katakan bahwa aku tak bisa mencintaimu dan aku tak bisa menikahimu, kamu sendiri kan yang bilang bahwa waktu bisa mengubahnya? Ternyata tak bisa, aku tak bisa mencintaimu Mirna”, aku menjawab dengan sesal yang menyesak.
“Kenapa abang tak bisa melupakan perempuan itu?”, teriak Mirna padaku
“Perempuan yang mana?”, tanyaku heran
“Itu Nadine yang sering diceritakan emak, perempuan yang dibenci emak”,jawab Mirna
“Bukan urusanmu. Aku sudah menikahimu dan jelas aku tak bisa memenuhi kebutuhan biologismu. Aku sudah mencoba, tetap aku tak bisa”, aku kembali menegaskan
“Apa maksudmu bang, apa kamu akan menceraikan aku?”, tanya Mirna dengan tangis yang menjadi
“Ya, sebaiknya kita bercerai. Aku tak mau lagi berdosa dengan tidak bisa menjalankan kewajibanku sebagai suami. Masih banyak laki-laki lain yang menginginkanmu. Kamu pilih saja salah satu dari mereka. Hidupmu akan bahagia”,aku menjelaskan pada Mirna dengan keberanian yang aku punya.
Selama lima bulan kami menikah, akhirnya kami bercerai, dan emak menangis. Emak hanya berdiam diri setiap hari. Aku minta maaf sama emak. Emak tetap diam. Seminggu emak begitu terus, badannya semakin kurus. Aku merasa bersalah, takut kondisi emak akan buruk lagi.
Besoknya emak mengeluarkan daster bermotif mawar merah dari lemarinya. Emak pergi ke kamar dan aku lihat emak mengenakan daster itu.
“Aku tau kau masih menginginkan perempuan yang memberikan daster ini padaku”,kata emak terbata-bata.
“Maksudnya Nadine, mak?”,tanyaku balik.
“Ya”,jawab emak menerawang.
“Di mana dia sekarang, dia pintar memasak, aku suka masakannya”, emak mengingat Nadine.
“Sudah hampir setahun, aku tak tau di mana Nadine sekarang”,jawabku
“Lakukanlah apa yang kamu mau sekarang. Aku tak bisa lagi memaksamu sesuai keinginanku. Aku tahu kamu sudah sepantasnya memilih pendampingmu sesuai dengan keinginanmu”, emak seperti pasrah, tapi tak kulihat wajah marah di wajahnya. Aku memeluk emak.
Emak bercerita bahwa selama ini dia sangat kecewa dengan adik-adiknya dan suaminya sehingga tak pernah memaafkan mereka. Hal itu membuat fisiknya bermasalah, dengan emosi yang selalu ditahan dan beban pikiran membuat tensi darahnya selalu tinggi. Hal itu pemicu emak menjadi stroke. Walau bapak sudah membuat rumah yang megah untuk emak yang dalam jurnal harian bapak kubaca, bapak menamai itu rumah hati, entah apa maknanya. Namun tak membuat kondisi berubah. Emak tetap sakit. Setiap kali emosiku tidak stabil, melihat kondisi emak mengingatkan aku pada prilaku bapak dulu. Emak juga bilang tak mau merasa kecewa juga dengan apa yang aku pilih dalam hidupku.
Kali ini emak sangat bahagia, emak bilang Badrun adik bungsunya yang setelah menikah tak pernah pulang lagi menemui emak, akan pulang kampung. Emak bilang Badrun bercerai dengan istrinya yang dari Sulawesi itu. Dan Badrun di usir. Besok Badrun pulang kata emak.
Jadi rumah megah ini yang disebut almarhum bapak sebagai rumah hati ini akan kedatangan adik kesayangan emak, Badrun. Emak seperti mendapatkan kebahagiaan hidupnya. Seperti tak ada beban di wajahnya.
Badrun adalah tukang kayu handal. Bebera bulan lalu aku membeli sebidang tanah di kawasan pinggir kota Padang, Lubuk Minturun namanya. Aku minta Badrun membantu membangun rumah kayu, seperti aku dan Nadine pernah cita-citakan. Ah, aku jadi ingat Nadine. Aku tak mau menghuni rumah hati peninggalan bapak. Aku ingin mencari kedamaian jiwa dengan rumah kayu yang kubangun. Ada banyak asa yang bisa kuraih dengan membuat rumah kayu itu. Selama tujuh bulan rumah kayu ini selesai berdasarkan rancanganku, eh bukan, ini rancangan yang pernah aku buat dengan Nadine. Ada saung di depan rumah kayu ini yang dibawahnya kolam ikan mas yang sesekali terdengar gemericik air. Di taman depan rumah aku tanam berbagai jenis mawar dan yang dominan adalah mawar merah. Aku juga menanam berbagai jenis anggrek. Dua bunga itu memiliki karakter yang sangat kuat menurutku. Nadine juga menyukai dua bunga ini. Aku tak bisa menemukan Nadine lagi. Bahkan aku tak berani lagi mencari Nadine ke rumah orang tuanya.

Amsterdam, 26 Desember 2015
Ini tahun ke dua aku di Belanda menyelesaikan Ph.D ku. Aku menyusuri jalan bersalju di antara kerlip pohon Natal. Aku tak merayakannya. Aku setengah berlari menuju kafe di ujung jalan. Baru saja aku mau mencari tempat duduk, aku rasanya mengenal perempuan di pojok kafe ini. Aku menghampirinya, ya, aku mengenalnya.
“Nadine?”, tanyaku
Perempuan itu melihatku.
“Yusuf,,?”, tanyanya tercengang
Kami bersalaman sambil menyunggingkan senyum bahagia.
“Apa kabar? Kenapa kamu bisa ada di sini Nadine? Apa kamu melanjutkan studi?”, aku memborong pertanyaan.
“Aku sedang short course di Norwegia dan sudah hampir selesai jadi aku bisa keliling eropa, dan hari ini di Amsterdam, kamu sendiri?”, jawab Nadine dengan senyum yang masing mengembang di wajahnya.
“Aku sedang menyelesaikan Ph.D ku di universitas Leiden, sudah hampir dua tahun”, jawabku sambil tak lepas menatapnya.
“Aku sangat senang bertemu denganmu”, aku mengungkapkan kebahagiaan bertemu dengannya
“Aku juga, tak disangka ya? Ini hari ulang tahunmu, aku ingin mengenangnya. Aku sedikit kesepian. Orang-orang merayakan Natal, eh tak taunya bertemu kamu di sini.. Selamat ulang tahun ya Yusuf….”
“Ya terimakasih kamu masih mengingatnya”, jawabku
“Wah, kamu masih menyimpan syal merah marun ini ya?”,tanya Nadine sambil melihat syal merah marun pemberiannya di leherku.
“Ya, begitulah, tak mungkin aku melupakanmu”, jawabku sambil menatapnya. Nadine tidak berubah, matanya masih bulat besar bersinar. Bibir penuhnya merekah merah dengan olesan lipgloss. Rasanya darahku mengalir kencang, jantungku berdegup cepat. Aku merasakan hormon kebahagiaan mengisi setiap aliran darah di seluruh tubuhku. Kami menceritakan diri masing-masing, ternyata Nadine belum menikah, dia sibuk dengan karirnya sebagai dosen dan konsultan pendidikan di Jakarta. Pantas saja tak pernah terdengar lagi dirinya di Padang.
Tidak terasa sudah jam 2 malam, hampir tujuh jam kami ngobrol. Kami menyusuri jalan bersalju mengantar Nadine ke hotel tempatku menginap. Sesampainya di hotel dengan badan yang masih kedinginan rasanya aku tak mau meninggalkannya.
“Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan, kamu kan baru hari ini datang ke Amsterdam, aku jemput jam 7 besok pagi, bagaimana?”, tanyaku pada Nadine
“Baiklah, sepertinya akan sangat menyenangkan”, Nadine menerima ajakanku.
Tapi kakiku tak kunjung beranjak kembali ke apartemenku. Aku masih menatap Nadine. Aku lihat Nadine tersenyum kikuk, entah kekuatan dari mana, tiba-tiba bibir kami berpagut.

PEREMPUAN DAN SONGKET MERAH

Tinggalkan komentar

Kau laki-laki pengecut! Tak mau menikahiku, padahal aku sudah meyakinkan ayahku yang sangat menentang hubungan kita. Selama ini ayahku tidak pernah melarangku untuk melakukan atau memilih sesuatu, selalu aku yang memilih, dan ayah pasti mendukungku. Namun pilihanku untuk memilihmu menjadi pendamping hidupku sangat ditentangnya. Kamu tahu kenapa? Bukan karena pekerjaanmu tidak jelas, ayahku berprinsip rejeki itu tak berpintu, asal mau berusaha, pasti ada rejeki. Bukan karena pendidikanmu yang rendah, kamu sekarang menjadi kandidat doktor pada kampus almamatermu. Bukan karena kamu jelek, kamu sangat tampan dan gagah dengan perawakan 172 cm dan tubuh tegap. Bukan karena kamu miskin, kamu anak seorang mantan pejabat di kota kelahiranmu. Kamu tahu karena apa? Karena dia tidak melihat ada cahaya di wajahmu dengan menyembah pada-Nya lima kali sehari. Padahal ayah tak pernah bersamamu dalam datangnya waktu shalat. Ayah tak pernah main-main soal keimanan, soal iman tak bisa ditawar-tawar olehnya. Tidak ada ampun untuk orang yang tidak shalat. Dia sangat meyakini itu.
Lalu kamu terdiam ketika hal itu kuceritakan padamu. Diam dan memandangku dengan tatapan yang menusukku, dasar aku perempuan tak mudah ditaklukkan, aku balik menatapmu dengan tajam.
“Aku masih mencari Tuhan”, katamu sambil menunduk.
Shalat bagimu hanya ritual semata, ritual yang tak bermakna katamu. Kamu bilang bahwa kamu hanya mencari makna. Entah makna apa yang kau cari. Selalu banyak alasan darimu dengan literatur yang kadang tak kumengerti. Tapi sialnya aku tak bisa melepaskanmu dari hatiku, karena aku merasa kau lah laki-laki yang telah bisa menaklukkan hatiku. Maka dengan penuh perjuangan aku memohon pada ayah untuk mau menerimamu. Ya sebagai anak yang paling dibanggakannya, aku bolak-balik pulang ke rumah ayah dalam kesibukanku yang sangat padat antara mengajar di berbagai kampus dan menyelesaikan program doktorku di penghujung usia 30 ini. Merayu ayah sampai sekeras ini merupakan hal yang baru kulakukan. Aku sampai membuat buku tentang Tuhan, banyak buku yang kubaca berkaitan dengan itu. Disertasiku untuk sementara tidak kupedulikan dulu. Aku telah menulis 365 halaman untukmu, lelakiku. Untuk kamu baca dan maknai, karena aku tahu, kamu selalu menuntutku untuk berpikir ilmiah. Buku itupun aku perlihatkan pada ayah. Akhirnya ayah luluh juga dengan permohonanku, rupanya tidak tega mengecewakan anak kebanggaannya. Ayah mau menerimamu dengan catatan kamu mau belajar untuk membiasakan diri melakukan shalat dan memaknai shalat itu dengan ikhlas.
Tapi apa reaksimu ketika kuberikan buku ini untukmu, kamu malah membuangnya dan mengatakan buku ini hanya untuk orang bodoh yang ingin mengetahui siapa Tuhannya. Dengan segala pendapat aku sampaikan padamu dan kamu membantah semuanya. Hingga kamu mengatakan bahwa aku tidak menghargaimu lagi.
“Aku akan mencari Tuhan dengan caraku sendiri, sebaiknya kita berpisah. Aku bosan dengan semua khotbahmu tentang tuhan dan shalat. Lagi pula, ibuku tidak menyukaimu, pendidikanmu terlalu tinggi katanya. Dia khawatir aku akan mengabaikannya nanti jika menikah denganmu, dia juga menginginkan menantu yang bisa menemaninya. Itu masalah utama hubungan kita. Aku tak bisa melawannya. Hanya dia orang tua yang kumiliki saat ini, setelah ayahku meninggal lima bulan yang lalu. Ini salah satu caraku mencari Tuhan”, begitu katamu meninggalkan aku.
Aku menangis, hal yang pertama kali aku perlihatkan di depanmu. Hingga membuatmu berbalik, panik. Kamu begitu khawatir, rupanya masih ada cinta untukku. Dan kamu mengatakan tidak akan meninggalkanku, menenangkanku sambil menghapus air mataku. Kemudian aku tersenyum, bahagia. Aku ingat kata-kata merayumu dan beberapa surat cinta yang kamu tulis untukku.
“Dirimu ku kagumi, kamu sosok yang tegar, aku bahagia bersamamu, sayang…”
Begitu katamu pada awal kita menjalin kasih. Kamu yang punya cita sederhana untukku, menjadi awan kecil, membasuhi pasir yang kering, membangkitkan gairah semi tunas kecil. Menginginkan kebahagiaan jiwa raganya terhadapku.
“Aku melihat pintu bahagia itu di matamu sayang dan aku akan membahagiakanmu selamanya”, begitu katamu hingga aku memelukmu erat pada senja merona itu.
Sekali waktu kamu menyelipkan sebentuk surat cinta pada buku yang kupinjamkan, “Tahukah dirimu sayang.. Imam Syafei bermahzab setelah jiwa raganya dipenuhi kekasihnya. Dia mencintai sang Khalid melalui diri kekasihnya. Aku ingin seperti itu,, cintamu untuk taman firdausku, cintaku untuk darussalammu… Dirimu yang bisa merangsang hormon kebahagiaan dalam otakku, kurasakan mengalir ke seluruh peredaran darahku. Dirimu wanita yang kukagumi sayang,, Tuhan sedang mencurahkan rahmat-Nya. Kehadiranmu kuresapi bukan sekedar kognitif, namun sudah menyentuh afeksitasku. Akhirnya benteng egoku sudah jebol olehmu. Dirimu wanita pertama yang meluluh lantakkan persepsiku tentang cinta. Dahulu cinta kuanggap hanya arus utama tema pelaris lagu komersil, ternyata tidak.. Cintaku dan cintamu yang tersentuh adalah realitas rasa yang kukagumi atasmu. Meresapi aromamu membuatku histeria, sensasional, dan bahagia. Aku ingin menghirup semua aromamu, sampai udarapun tak sanggup mencurinya dariku.”
Sungguh surat cinta yang menggetarkan jiwaku.
Seminggu kemudian kamu datang ke rumahku. Kondisi kesehatan ibumu memburuk, katamu. Dan itu karena ibumu mengetahui kita masih menjalani hubungan.
“Ibuku sangat tidak menginginkanmu, dia sangat cemburu denganmu, aku tak kuasa mambantah kata-katanya. Aku ingin membahagiakannya. Kita akhiri hubungan ini”, begitu katamu.
Dan kamu akhirnya memilih untuk membahagiakan ibumu yang tinggal seorang diri, kamu meyakini bahwa jalan untuk mencari Tuhan adalah dengan menjalankan agama sesempurnanya. Ridha Tuhan terletak pada ridha orang tua, dan yang kamu punya hanya ibumu. Kamu pun berargumen Rasullullah pun pernah menjawab pertanyaan dari sahabatnya, terhadap kedua orang tua saya kepada siapakah saya mesti mengabdi ya Rasullullah? Pertama ibumu, lalu yang kedua, ibumu, yang ketiga, ibumu, yang keempat, ayahmu. Kamu mengabdikan seumur hidupmu pada ibumu.
Lelakiku meninggalkanku dalam pencariannya terhadap Tuhan, dia tidak ingin menyakiti hati ibunya karena tidak menyetujui perempuan pilihannya. Lelakiku ingin mengabdi kepada ibunya yang sakit, ibunya yang tak mau anaknya ‘diambil’ orang lain. Ibunya yang takut sendirian. Ibunya yang selalu membelanya dengan cinta di kala ayahnya mengamuk padanya sampai rentang usia remajanya.
Aku hanya bisa menangisi keputusannya, mencoba untuk ikhlas. Lelakiku memberikan seulas kain songket warna merah bermotif emas. Warna yang sangat aku suka.
“Sayangku, aku masih sangat mencintaimu, aku akan tetap mencintaimu selamanya. Kamulah satu-satunya perempuan yang telah membuat hidupku berarti, tapi aku tidak mau Tuhan murka karena aku telah membuat ibuku menangis. Telah lama aku mencari dan ingin menemukan Tuhan, aku tak mau lagi dia pergi meninggalkanku. Dirimu juga telah berjasa mempertemukanku dengan-Nya. Namun pada penghujung usia ibuku, aku ingin membalas semua jasanya. Untuk ini aku memilih untuk tidak menikah dengan siapapun. Aku akan membawa cintamu di hatiku selamanya. Kalau kita berjodoh nanti, kain songket merah yang kuberikan padamu ini akan menjadi tanda dan alat untuk mempersatukan kita, dan aku tidak tahu kapan. Aku harap kamu dapat menyimpannya baik-baik. Kalaupun dirimu hendak menikah dengan laki-laki lain, silahkan, tidak ada persoalan bagiku, aku ikhlas. Aku ingin melihatmu bahagia”
Isak tangisku semakin kencang mendengar perkataan lelakiku. Aku tak bisa mengatakan apapun. Lelakiku menyapu air mata yang mengalir di pipiku dengan saputangan berwarna cream miliknya. Dan dia pergi meninggalkanku, benar-benar pergi meninggalkan aku dan pindah ke kota lain. Aku masih tetap menangis.
“Sayang,,,kamu kenapa?”, tanyamu sambil mengguncang-guncang tubuhku.
Aku membuka mata dan memendarkan pandangan ke sekitar ruangan, gorden merah dihiasi bunga-bunga segar dengan dinding warna pink muda. Kasur tebal empuk dengan sprei merah salam dan lelakiku mendekapku dengan jarak pandang mata yang sangat dekat. Aku masih bingung.
“Sayang, kamu menangis, mimpi buruk ya?”, tanyamu dan aku masih terdiam menatapmu.
“Beyb,, ini malam pertama kita..tersenyumlah. Ayo, ceritakan padaku kamu mimpi apa barusan?”, katamu sambil mengusap air mataku.
“Hmm,, kalau begitu, kita shalat tahajud dulu ya, biar kamu tenang sayang,,,”, katamu mengajakku shalat malam.
Aku baru sadar, bahwa yang kualami tadi hanya mimpi. Mimpi buruk. Aku langsung memeluk lelakiku, yang telah jadi suamiku. Aku memeluk erat lelakiku, sangat erat, takut dia pergi meninggalkanku. Ah, hanya mimpi!

Prosa Cintaku

4 Komentar

“sayang, aku menginginkanmu duduk manis di sampingku, bisakah?”, tanya lelaki itu

“aku tidak terbiasa,,aku orang bebas,,”, balas perempuan itu

“sampai kapan kamu akan bebas seperti ini, kamu perempuan, sayang”, tanya lelaki itu

“sebenarnya aku ingin, tapi kita kan terpisah..”

“ya, aku akan menunggumu, bersabar menunggu kamu”

perempuan itu berpikir, dia tidak ingin membuat kekasihnya menunggunya, apalagi menunggu dengan cinta. menunggu cinta sama dengan membunuh diri sendiri secara perlahan. dia tidak ingin membunuh lelakinya.

perempuan itu akhirnya memutuskan untuk pulang menemui cintanya.

“sayang aku senang kita bisa bersama”, ujar lelaki itu

“aku juga, tapi aku khawatir”, balas perempuan itu

“apa yang kamu khawatirkan, sayang?”, tanya lelaki itu

“aku paham dengan kompleksitas kerja kamu, aku takut kamu tidak ada waktu, aku takut kamu tidak setia”, papar perempuan itu

“aku akan ada buat kamu, sayang, percayalah”, lelaki itu menguatkan

“ya, baiklah, aku percaya”, jawab perempuan itu masih dengan keraguan di dadanya

sebulan lebih berlalu, manis, hubungan yang manis. perempuan dan lelaki itu disanjung sebagai pasangan yang serasi, pas, cocok. yang perempuan beruntung mendapatkan lelaki itu, lelaki itu beruntung mendapatkan perempuan itu.

selanjutnya, mulailah ombak menjadi ganas. berakibat pada kapal cinta mereka yang berlayar terombang-ambing, hampir terhempas.

perempuan itu mulai resah, gelisah, gundah, ragu, sedih, marah, pada lelakinya. benar adanya ketika perempuan itu berekspresi, lelaki itu mulai marah. lelaki itu merasa egonya dilangkahi, lelaki itu marah, perempuan itu diam dalam kecewa dan marah.

perempuan itu menulis email pendek, tak kuasa berbicara.

lelaki itu membalasnya dengan sms pendek.

perempuan itu menangis. dia menangis lagi. menangis lagi. perempuan itu berpikir untuk berhenti menangis. dia berhenti menangis.

perempuan itu berhenti menangis, untuk selamanya

Maafkanlah

3 Komentar

Setahun silam, ada berbagai peristiwa yang membuat aku tidak bisa memaafkan beberapa orang di tanah kelahiranku, ranah minang. Akhirnya membuatk hengkang dari rumah gadang, merantau. Di tanah rantau, hidupku selalu diwarnai dendam yang tak berkesudahan dengan detail skenario pembalasan yang akan kulakukan.

Aku mencoba untuk memperkuat diri, sebuah tameng dari ketidakberdayaan. Berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, mulai dari Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, dan Balikpapan; dengan berbagai pekerjaan, seorang diri dalam waktu 2 tahun kurang. Masih dengan amarah dan dendam membara di dada.

Kemudian aku merasa lelah dengan semua yang aku lalui, aku merasa semakin sakit. Tanah rantau sudah tidak enak lagi buatku. Seolah-olah rumah gadang memanggilku pulang, dalam setiap mimpiku. Maka, aku selalu berpikir untuk pulang, mungkin karena ibuku. Makhluk mulia ini hampir setiap menelfonku, selalu menangis. Barangkali ini yang makin membuatku sakit, seolah ibu sudah tidak ridha lagi.

Sepertinya, alam sudah bersinergi untuk menyuruh aku pulang, ada tawaran untuk menjadi dosen di Padang. Tanpa pikir panjang, antara mau dan tidak mau, aku pulang. Tentunya aku masih dengan rasa sakit yang kubuat sendiri dalam balutan dendam.

Pulang. Sepertinya aku telah menyerah.

Di pesawat, aku hanya bisa menangis, menangisi dan mengasihani diri sendiri. Aku tidak peduli dengan orang yang terheran-heran melihat aku yang tidak berhenti mengeluarkan air mata. Saat itu yang terpikir olehku adalah bagaimana melepaskan rasa sakit yang ada di dada. Aku tahu, dendam itu yang menjadi duri dalam dagingku.

Sesampainya di BIM, sudah ada niat yang kuat dalam hati untuk menemui orang-orang yang telah membuatku sakit. Aku akan minta maaf karena aku telah memelihara dendam pada mereka.

Pada pelaksanaannya, hati ini selalu mendua. Do or don’t. Tapi aku tidak boleh kalah lagi, emosi negatif jangan pernah mempengaruhi hidupku lagi. Aku berhasil, menemui orang-orang itu, bersilaturrahmi lagi dan minta maaf. Ajaib, aku merasa tenang. Saat ini aku sangat menikmati hidup dengan perasaan tenang, enak, dan bersemangat.

Dari situ aku tahu, ternyata perjalanan yang telah kulalui mampu membuat aku berubah. Berubah menjadi lebih baik. Itulah yang aku rasakan sekarang. Ternyata aku tidak menyerah dalam ketidakberdayaan, aku kuat. Aku sangat yakin dengan hal itu.

Semoga tahun ini menjadi tahun yang lebih baik bagiku, harus. Amin.

FAIR, kenapa begitu susah?

3 Komentar

Sungguh sulit bagiku menemukan orang yang mau bermain fair denganku. Padahal selama ini aku sangat menjunjung hal itu dalam setiap tindak tandukku. Tapi kenapa mereka tidak pernah mau melakoni itu juga. Apa sungguh sulit untuk dilakukan? Atau apakah memang enak untuk bermain tidak fair? Aku akan buktikan pada orang-orang itu bahwa mereka akan ‘mati’ dengan ketidakfairannya.

Apa aku kesal? Mungkin iya, namun kupikir dengan begini aku bisa segera mature dan bijak. Sebab, dunia tidak akan mau berlembut hati pada orang yang lemah, malah tambah keras. Be taft! Akan kubuktikan, aku bisa lebih bersinar. Ibarat bintang, saat ini memang masih redup, namun berpotensi untuk terang. Terangnya bukan untuk menyilaukan, tapi untuk menerangi jagad.

Older Entries